Sebagaimana penyebar ghazwul fikri yang
menyerukan pergaulan bebas antara wanita dan pria dan menghilangkan sekat di
antara keduanya, maka kita juga melihat mereka menyerukan untuk mempekerjakan
wanita di segala bidang, tanpa memandang apakah itu diperlukan atau tidak. Ini
adalah merupakan tindak lanjut dari usaha mereka yang pertama. Propaganda ini
mendukung adanya ikhtilath (pergaulan bebas) dan yang menghilangkan batas-batas
serta bebas dari kezhaliman abad pertengahan dan kegelapannya sebagaimana mereka
katakan.
Di antara makar mereka adalah bahwa
mereka itu seringkali tidak berterus-terang bahwa mereka menginginkan wanita
untuk keluar dari fithrahnya dan keluar dari batas-batas kewanitaannya. Mereka
seakan tidak ingin memanfaatkan kewanitaannya untuk kenikmatan yang diharamkan
atau kerja yang haram, bahkan mereka menampilkan dalam bentuk orang-orang yang
bersih dan ikhlas, yaitu orang-orang yang tidak menginginkan sesuatu selain
kemaslahatan. Mereka memperkuat pendapat mereka untuk mempekerjakan wanita
dengan berbagai alasan sebagai berikut:
1. Sesungguhnya Barat itu lebih maju dan
lebih berkembang daripada kita dalam kancah peradaban. Barat telah mendahului
kita dalam mempekerjakan wanita, maka jika kita ingin maju seperti Barat maka
kita harus mencontohnya dalam segala sesuatu karena peradaban itu tidak
terpisah-pisah.
2. Sesungguhnya wanita adalah separuh
dari masyarakat dan membiarkan wanita di rumah tanpa kerja adalah merusak
separuh masyarakat dan membahayakan ekonomi ummat, maka kemaslahatan masyarakat
menuntut wanita untuk bekerja.
3. Kemaslahatan keluarga (rumah tangga)
juga menuntut kerja wanita. karena kebebasan hidup semakin meningkat dewasa ini,
dan kerja wanita itu bisa menambah income keluarga serta dapat membantu suaminya
untuk memikul beban kehidupan. Terutama di dalam lingkungan yang terbatas
pemasukannya.
4. Kepentingan wanita itu sendiri juga
menuntut ia untuk bekerja, karena berinteraksi dengan manusia dalam kehidupan
dan dengan masyarakat di luar rumah itu dapat membuat cemerlang kepribadiannya
dan menambah pengetahuan dan pengalaman, yang semua itu tidak dapat diperoleh
ketika ia masih berada di antara empat dinding.
5. Sebagaimana kerja adalah senjata di
tangannya untuk menghadapi berbagai peristiwa zaman, mungkin ayahnya meninggal
atau dia dicerai oleh suaminya atau ditelantarkan oleh anak-anaknya, maka dengan
bekerja dia tidak akan menjadi miskin dan terlantar. Terutama di zaman yang
sifat egois telah mendominasi kehidupan manusia, banyak perlakuan anak yang
menyakitkan orang tua, tidak mau tahu dengan sanak famili sehingga setiap orang
mengatakan, "Yang penting diriku."
Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur'an & Sunnah
Oleh: DR. Yusuf Al-Qardhawi
Kunjungi juga:

Komentar
Posting Komentar