Bagin 12:
Tarawih adalah mendirikan shalat malam secara berjama’ah di bulan
Ramadhan. Waktu pelaksanaannya adalah setelah shalat Isya sampai tiba waktu
fajar. Nabi mendorong kita untuk melaksanakan Tarawih di bulan Ramadhan
dimana beliau bersabda:
“Barangsiapa yang mendirikan shalat malam di bulan Ramadhan dengan iman
dan mengharapkan ganjaran, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”12
Dan di dalam Shahih Bukhari, Aisyah radhillahu anha meriwayatkan bahwa:
“Nabi mendirikan shalat malam suatu malam di masjid dan mengimami
orang-orang shalat. Kemudian beliau shalat pada malam berikutnya dan orangorang
bertambah banyak. Kemudian orang-orang berkumpul pada malam ketiga
dan keempat namun beliau tidak keluar mengimani mereka. Keesokan
harinya beliau berkata:
“Aku melihat apa yang kalian lakukan (tadi malam) dan tidak ada yang
menghalangiku untuk keluar kepada kalian kecuali aku takut hal itu akan
diwajibkan atas kalian.”13 Hal ini berlangsung di bulan Ramadhan.
Sunnahnya adalah membatasi shalat malam sebanyak sebelas raka’at,
melakukan salam setiap dua raka’at. Hal ini karena ketika Aisyah radhiallahu
anha ditanya mengenai shalat Nabi di bulan Ramadhan, dia menjawab:
“Beliau tidak pernah shalat di bulan Ramadhan ataupun di luar Ramadhan
melebihi sebelas raka’at.” Mutafaqun alaihi.14
Dan di dalam Muwatta, Muhammad bin Yusuf dan beliau adalah tsiqah,
meriwayatkan dari Sa’ib bin Yazid – dan beliau adalah sahabat, bahwa Umar
memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari untuk memimpin orangorang
shalat sebelas raka’at.
Tarawih adalah mendirikan shalat malam secara berjama’ah di bulan
Ramadhan. Waktu pelaksanaannya adalah setelah shalat Isya sampai tiba waktu
fajar. Nabi mendorong kita untuk melaksanakan Tarawih di bulan Ramadhan
dimana beliau bersabda:
“Barangsiapa yang mendirikan shalat malam di bulan Ramadhan dengan iman
dan mengharapkan ganjaran, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”12
Dan di dalam Shahih Bukhari, Aisyah radhillahu anha meriwayatkan bahwa:
“Nabi mendirikan shalat malam suatu malam di masjid dan mengimami
orang-orang shalat. Kemudian beliau shalat pada malam berikutnya dan orangorang
bertambah banyak. Kemudian orang-orang berkumpul pada malam ketiga
dan keempat namun beliau tidak keluar mengimani mereka. Keesokan
harinya beliau berkata:
“Aku melihat apa yang kalian lakukan (tadi malam) dan tidak ada yang
menghalangiku untuk keluar kepada kalian kecuali aku takut hal itu akan
diwajibkan atas kalian.”13 Hal ini berlangsung di bulan Ramadhan.
Sunnahnya adalah membatasi shalat malam sebanyak sebelas raka’at,
melakukan salam setiap dua raka’at. Hal ini karena ketika Aisyah radhiallahu
anha ditanya mengenai shalat Nabi di bulan Ramadhan, dia menjawab:
“Beliau tidak pernah shalat di bulan Ramadhan ataupun di luar Ramadhan
melebihi sebelas raka’at.” Mutafaqun alaihi.14
Dan di dalam Muwatta, Muhammad bin Yusuf dan beliau adalah tsiqah,
meriwayatkan dari Sa’ib bin Yazid – dan beliau adalah sahabat, bahwa Umar
memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari untuk memimpin orangorang
shalat sebelas raka’at.
Sponsor link:

Komentar
Posting Komentar