Bagian 3:
Salah satu nama Allah adalah Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana). Dan Al-Hakim
adalah yang memiliki karakteristik Hikmah. Hikmah berarti: Memperlakukan
suatu perkara dengan benar dan tepat dan menempatkannya pada tempatnya.
Nama ini mengharuskan bahwa segala sesuatu yang Allah ciptakan dan
syari’atkan adalah dengan hikmah yang teramat besar – barangsiapa yang
mengetahuinya, mengetahuinya, dan barangsiapa yang tidak menyadarinya,
tidak mengetahuinya.
Puasa, sesuatu yang telah Allah tetapkan dan wajibkan atas hamba-hamba-Nya,
memiliki hikmah yang sangat besar dan begitu banyak manfaat.
Diantara hikmah berpuasa adalah: Puasa merupakan perbuatan ibadah yang
dilakukan untuk Allah, dimana sang hamba menjadi lebih dekat kepada
Tuhannya dengan meninggalkan apa-apa yang dicintai dan diinginkannya,
seperti makan, minum dan berhubungan badan. Hal ini dilakukan dalam rangka
meraih ridha dan taufik Allah di kehidupan berikutnya. Dengan melakukannya,
dia menunjukkan secara lahiriah, bahwa dia telah memilih apa yang dicintai
Tuhannya lebih dari apa yang dicintainya, sebagaimana memilih kehidupan
akhirat daripada kehidupan saat ini.
Dan diantara hikmah dibalik berpuasa adalah puasa merupakan cara untuk
meraih ketakwaan, sebagaimana firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”(QS Al-
Baqarah [2] : 183)
Maka seseorang yang berpuasa diperintahkan untuk memliki takwa kepada
Allah, yang berarti mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ini
adalah tujuan terbesar dibalik puasa. Tujuan berpuasa tidaklah untuk menyiksa
seseorang dengan menyuruhnya meninggalkan makanan, minuman dan
berhubungan badan’.
Nabi bersabda:
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, bertindak atas
kedustaan itu dan kebodohan, maka Allah tidak membutuhkan dia
meninggalkan makanan dan minumannya .” (HR Bukhari Muslim)3
Perkataan dusta meliputi setiap perkataan yang terlarang seperti berbohong,
ghibah dan mengumpat, demikian juga perbuatan-perbuatan terlarang lainnya.
Berbuat di atas kedustaan mencakup setiap jenis perbuatan terlarang, seperti
melanggar (hak-hak) orang lain, khianat, menipu, memukul orang, mengambil
uang dengan tidak benar, dan sebagainya. Juga termasuk dalam hal ini adalah
mendengarkan apa-apa yang dilarang untuk mendengarkannya, seperti
nyanyian-nyanyian yang terlarang dan alat-alat musik. Kejahilan merupakan
kebodohan, dan itu berarti tidak menggunakan petunjuk-petunjuk agama dalam
berkata dan berbuat.
Salah satu nama Allah adalah Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana). Dan Al-Hakim
adalah yang memiliki karakteristik Hikmah. Hikmah berarti: Memperlakukan
suatu perkara dengan benar dan tepat dan menempatkannya pada tempatnya.
Nama ini mengharuskan bahwa segala sesuatu yang Allah ciptakan dan
syari’atkan adalah dengan hikmah yang teramat besar – barangsiapa yang
mengetahuinya, mengetahuinya, dan barangsiapa yang tidak menyadarinya,
tidak mengetahuinya.
Puasa, sesuatu yang telah Allah tetapkan dan wajibkan atas hamba-hamba-Nya,
memiliki hikmah yang sangat besar dan begitu banyak manfaat.
Diantara hikmah berpuasa adalah: Puasa merupakan perbuatan ibadah yang
dilakukan untuk Allah, dimana sang hamba menjadi lebih dekat kepada
Tuhannya dengan meninggalkan apa-apa yang dicintai dan diinginkannya,
seperti makan, minum dan berhubungan badan. Hal ini dilakukan dalam rangka
meraih ridha dan taufik Allah di kehidupan berikutnya. Dengan melakukannya,
dia menunjukkan secara lahiriah, bahwa dia telah memilih apa yang dicintai
Tuhannya lebih dari apa yang dicintainya, sebagaimana memilih kehidupan
akhirat daripada kehidupan saat ini.
Dan diantara hikmah dibalik berpuasa adalah puasa merupakan cara untuk
meraih ketakwaan, sebagaimana firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”(QS Al-
Baqarah [2] : 183)
Maka seseorang yang berpuasa diperintahkan untuk memliki takwa kepada
Allah, yang berarti mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ini
adalah tujuan terbesar dibalik puasa. Tujuan berpuasa tidaklah untuk menyiksa
seseorang dengan menyuruhnya meninggalkan makanan, minuman dan
berhubungan badan’.
Nabi bersabda:
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, bertindak atas
kedustaan itu dan kebodohan, maka Allah tidak membutuhkan dia
meninggalkan makanan dan minumannya .” (HR Bukhari Muslim)3
Perkataan dusta meliputi setiap perkataan yang terlarang seperti berbohong,
ghibah dan mengumpat, demikian juga perbuatan-perbuatan terlarang lainnya.
Berbuat di atas kedustaan mencakup setiap jenis perbuatan terlarang, seperti
melanggar (hak-hak) orang lain, khianat, menipu, memukul orang, mengambil
uang dengan tidak benar, dan sebagainya. Juga termasuk dalam hal ini adalah
mendengarkan apa-apa yang dilarang untuk mendengarkannya, seperti
nyanyian-nyanyian yang terlarang dan alat-alat musik. Kejahilan merupakan
kebodohan, dan itu berarti tidak menggunakan petunjuk-petunjuk agama dalam
berkata dan berbuat.

Komentar
Posting Komentar