Yang namanya ulama menurut pengertian yang berdekatan dengan ayat Al-Qur’an
mestinya berkepribadian yang khosy-yatullah, benar-benar takut kepada
Allah, melebihi orang-orang yang bukan ulama. Di masyarakat, yang disebut Kiyai
itu identik atau bahkan sama dengan ulama. Maka seharusnya, mereka adalah
orang-orang yang khasy-yatullah, benar-benar takut kepada Allah.
Tentunya, untuk menjadi orang yang tingkatannya khasy-yatullah itu
punya akhlaq yang mulia. Hal-hal yang mubah (boleh) dilakukan pun perlu
ditimbang manfaat dan mudharatnya, bahkan apabila kurang bermanfaat, walaupun
tidak bermudharat masih harus dipertimbangkan. Sedangkan hal yang meragukan
(syubhat) maka mesti dijauhi, apalagi yang haram. Sikap seperti itu dinamakan
sikap wara’ atau wira’i. Apabila ulama telah melepas “baju”
wira’i-nya maka berarti ilmu agamanya telah dia tinggalkan, tidak
diamalkan lagi. Yang tadinya merendahkan pandangan matanya ketika ada perempuan
lewat, berganti menjadi berani memandang lebih dari satu klebatan,
(sekali pandang). Baru di tingkat itu saja sebenarnya sudah melepas baju
wira’i, karena dia telah melakukan zina mata. Bisa dibayangkan, baju
wira’i itu telah diganti baju apa, kalau misalnya ada berita santer bahwa
Kiyai Fulan beredar fotonya memangku isteri orang. Kata Nabi saw, “Syetan
perempuan dan syetan laki-laki”, ketika beliau berkomentar tentang perempuan
yang dikintil oleh lelaki, yaitu lelaki mengikuti perempuan, dan di sana
belum ada keterangan sampai memangku segala. Jadi Sang Kiyai, dengan
perbuatannya seperti itu telah mengganti baju wira’i-nya dengan baju
syetan.
Dalam hal berkata-kata, bertingkah laku dan bersikap,
setiap akhlaq mahmudah/ mulia yang dilepas kemudian diganti dengan akhlaq
madzmumah/ tercela bisa diibaratkan baju wira’i diganti dengan
baju syetan. Dalam kasus ini kita lihat peristiwa-peristiwa yang menyangkut
sebagian kiyai terutama di kalangan NU ataupun Islam Tradisi.
Dalam suatu wawancara, Kiyai PKB (Partai
Kebangkitan Bangsa/ NU) pimpinan Pondok Pesantren Buntet Cirebon, KH Abdullah
Abbas, mengatakan, “...Kita tahu yang mencalonkan Gus Dur itu kan Amien (Rais)
sendiri. Kenapa sekarang dia malah menggugat? Ini kan namanya pelecehan. Saya
kira Amien Rais itu orang sinting.” Lanjutan dalam wawancara itu di antaranya: “
Dia (Amien Rais) itu sulit dipercaya. Niatnya tidak di atas kebenaran. Artinya
kualitas ke-Islamannya tidak ada. Makanya kita tidak khawatir.”
Sementara itu Kiyai PKB-NU lainnya, KH Cholil Bisri
Rembang berkata: “Saya sendiri punya 2000 santri, ya kalau untuk menghabisi
orangnya Amien Rais di Rembang dan Jawa Tengah, cukup lima menit.” Selain
jumlah pesantren, KH Cholil juga mengingatkan bahwa NU memiliki perguruan silat
Pagar Nusa, ada Ansor ditambah PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) yang memiliki
Garda Bangsa. “Mereka itu orang-orang yang militan semua dan relatif
jadug (sakti).” (Tabloid Aksi, No. 295, 2-8 November 2000).
Pernyataan dua kiai itu berkaitan dengan ungkapan
Amien Rais ketua MPR yang menginginkan agar Gus Dur turun dari kedudukannya
sebagai presiden. Karena, menurut Amien, seluruh indikasi (kepemimpinan Gus
Dur) menuju negatifisme. Di samping gagal memberantas KKN, Gus Dur masih belum
berhasil mengatasi pengangguran, memerosotkan nilai rupiah terhadap dolar 1500
poin dibanding zaman Habibie. Nampaknya kalau Gus Dur terus, Republik akan
kedodoran karena dua propinsi bisa lepas. Kata Amien: “Saya sudah punya
komitmen, sayalah yang sekarang dihujat masyarakat sebagai orang yang paling
bertanggung jawab mempresidenkan Gus Dur dengan Poros Tengah kami. Sekarang saya
ingin menebus dosa dan kesalahan saya itu. Saya minta maaf kepada seluruh bangsa
Indonesia atas pilihan yang keliru, kita manusia bisa saja keliru. Sekarang Gus
Dur tidak bisa bertahan lebih lama lagi, demi kelanjutan bangsa dan negara ini
di masa datang.” (Majalah Sabili, 15 November 2000/ 18 Sya’ban 1421, hal
95).
Di balik penyesalan atas kekeliruannya itu Amien
Rais dimaki-maki oleh pendukung Gus Dur, sampai kiai-kiai NU/ PKB dan muqollid
Gus Dur melontarkan kata-kata seperti tersebut di atas. Lantas, apakah lontaran
kiai-kiai NU/ PKB itu bisa ditiru? Untuk meniru perbuatan, sudah ada ketegasan
dari Allah SWT bahwa Rasulullah SAW lah uswah hasanah (contoh baik) yang
harus ditiru. Bukan kiai atau siapa-siapa. Sedangkan Rasulullah Saw
bersabda:
أربع من كن فيه كان
منافقا خالصا ومن كانت فيه خصلة منهن كانت فيه خصلة من النفاق حتى يدعها: إذا حدث
كذب، وإذا وعد أخلف، وإذا عاهد غدر، وإذا خصم فجر.
“Arba’un man kunna fiihi kaana
munafiqon khoolishon, wa man kaanat fiihi khoshlatun minhunna kaanat fiihi
khoshlatun minan nifaaqi hattaa yada’ahaa: Idzaa haddatsa kadzaba, wa idzaa
wa’ada akhlafa, wa idzaa ‘aahada ghodaro, wa idzaa khoshoma
fajaro.”
“Orang yang dirinya ada empat
perkara maka dia itu (sangat menyerupai) munafiq tulen.Dan barangsiapa ada pada
dirinya satu perkara dari yang empat itu maka ada dalam dirinya satu perkara
dari kemunafikan, sehingga (baru hilang kalau) ia meninggalkannya. (Yaitu):
Apabila ia bercerita (tentang hal yang telah terjadi) maka dia berbohong,
apabila ia berjanji (untuk memenuhi janji Allah) maka ia menyelisihi, apabila ia
berjanji/ sepakat maka ia khianat, dan apabila ia bertengkar maka ia
(berargumentasi dengan) dusta/ menyimpang dari kebenaran.” (Hadits Riwayat Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud,
An-Nasa’i, dan At-Tirmidzi, berderajat Shahih).
Munafiq yang sejati adalah lahirnya menampakkan diri
sebagai beriman sedang hatinya kafir. Empat perkara itu adalah perbuatan
munafiq, jadi munafiq af’ali (secara perbuatan). Maka siapa yang
melakukan 4 perbuatan munafiq itu dia mirip sekali dengan munafiq sejati.
Sedang dari sisi mengandalkan kekebalan yang disebut
jadug, maka tingkah mengisi diri dengan ilmu kebal/ jadug itu
berlawanan dengan ajaran Islam. Nabi Muhammad SAW tidak mengajarkan ilmu kebal,
bahkan beliau pun terluka ketika berperang melawan kafirin. Para sahabat Nabi
SAW pun justru menginginkan mati syahid, tidak pakai ilmu kebal sama
sekali.
Ilmu jadug itu mungkin dengan minta bantuan
jin, mungkin dengan sihir, mungkin juga dengan jimat. Semua itu dilarang
keras dalam Islam.
Larangan minta bantuan kepada jin:
وأنه كان رجال
رهقا.
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di
antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin,
maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS Al-Jin/
72:6).
Larangan bersihir:
من عقد عقدة ثم نفث فيها فقد سحر، ومن سحر فقد أشرك، ومن تعلق شيئا وكل إليه. (رواه النسائ عن أبي هريرة).
“Man ‘aqoda ‘uqdatan tsumma nafatsa fiihaa faqod
saharo, waman saharo faqod asyroka, waman ta’allaqo syai’an wukila
ilaihi.”
“Barangsiapa membuat suatu buhulan/
ikatan lalu meniup padanya (sebagaimana yang dilakukan tukang sihir), maka dia
telah melakukan sihir. Dan barangsiapa yang melakukan sihir, maka dia telah
berbuat syirik; sedang barangsiapa menggantungkan diri pada suatu benda (jimat)
maka dirinya dijadikan bersandar kepada benda itu.” (HR An-Nasa’i dari Abu Hurairah).
من
علق تميمة فقد أشرك. (رواه أحمد).
Larangan pakai jimat: “Man ta’allaqo tamiimatan
faqod asyroka.”
“Barangsiapa menggantungkan jimat
maka sungguh ia telah berbuat syirik.”
HR Ahmad).
Demikianlah. Mudah-mudahan mereka mau bertobat, dan
mencabut serta menyesali ucapan yang jadi contoh buruk. Sedang kalau masalahnya
bersalah kepada sesama manusia maka minta maaf kepada yang bersangkutan. Dan
para jadug itu hendaknya membuang ilmu jadugnya serta bertobat,
hingga menemui Allah SWT tidak dalam keadaan musyrik.
Kecaman keras dan ancaman dengan menakut-nakuti
yang dilancarkan Kiyai-Kiyai PKB-NU itu terjadi bulan November 2000M. Ternyata 3
bulan berikutnya, Februari 2001M terjadi betul perusakan massal yang diduga
keras dilakukan oleh warga Nahdliyin/ NU di Jawa Timur. Sebagaimana dituturkan
di berbagai tempat di sini, perusakan itu justru terhadap masjid, panti asuhan
Musl, madrasah, sekolah dan perkantoran milik Muhammadiyah dan Al-Irsyad. Selain
itu pembakaran dan perusakan kantor-kantor Golkar, dan penebangan ratusan pohon
pinggir jalan, dihalangkan ke sepanjang jalan Raya. Sebelumnya tahun 2000 sudah
diadakan perusakan-perusakan terhadap kantor-kantor HMI di beberapa tempat oleh
pendukung Gus Dur tentunya dari NU.
Kejadian yang di dalam Islam termasuk tingkah
perusakan yang sangat dilarang, sedang pelakunya disebut fasiq itu sangat
disayangkan sekali, karena justru terjadinya itu akibat dari suara-suara yang
dilontarkan oleh para kiyai NU, di antaranya seperti tersebut di atas.
Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz
Kunjungi juga:

Komentar
Posting Komentar