Langsung ke konten utama

Lakonnya tidak jelas sambil berkilah

Kembali kepada NU, dalam hal-hal yang sudah menjadi tradisi atau kebiasaan lagak lagu NU, biasanya para kiyai NU bukan sekadar menyetujui ataupun mengamini tradisi yang berkembang di NU, namun justru mereka bertandang menjadi pelopor, walaupun tradisi itu tidak terdapat dalam ajaran Islam. Mereka kadang mencari-cari kilah untuk mendalili lakon dan lagak lagu NU itu. Hal itu  tampaknya sudah menjadi khitthah (garis) dalam NU sejak awal mula. Buktinya? Ada seorang kiyai di Magelang bertanya kepada Kiyai Ali Yafie (waktu masih berkecimpung dalam PBNU, 1987) dalam konferensi ulama NU di Pesantren Watu Congol Muntilan Magelang Jawa Tengah. Kiyai Magelang itu bertanya kepada Kiyai Ali Yafie, kenapa dulu Hadhrotus Syaikh Hasyim Asy’ari (pendiri NU, kakek Gus Dur) melarang murid-muridnya membaca kitab Subulus Salam (Syarah/ penjelasan Kitab Bulughul Maram –kitab hadits disusun dengan pengelompokan urutan secara hukum-hukum fiqh)?

   Kiyai Ali Yafie menjawab, karena Kitab Subulus Salam itu dikarang oleh As-Shon’ani, orang Syi’ah.
   Jawaban Kiyai Ali yafie itu sendiri belum bisa dipertanggung jawabkan. Dan andaikan itu benar pun, hampir tidak ada dalam kitab itu ajaran yang mempropagandakan Syi’ah. Seandainya masalahnya karena Syi’ah pun, bagi NU tidak ada masalah. Karena kedua-duanya (NU dan Syi’ah sama-sama doyan tasawuf, sama-sama doyan klenik yang dibungkus seolah Islami.  Sedangkan tentang Syi’ah, di Indonesia saat tahun 1940-an belum terdengar gencar, baru setelah revolusi Iran 1979 lah terdengar gencarnya, karena penguasa Iran, Khomeini adalah tokoh Syi’ah, maka orang-orang yang tidak mantap kesunniannya seperti Jalaluddin Rachmat orang Bandung lalu coba-coba mencari proyek baru dalam hal sekte. Mula-mula Jalal malu-malu, sampai-sampai dia katakan dirinya Susi, Sunnah-Syi’ah, akhirnya dia mendirikan Ijabi, tahun 2000, nama ormas berkedok Ahlul Bait, yang hakekatnya adalah Syi’ah, dengan menjajakan tasawuf yang digemari oleh kalangan NU. 

   Yang jelas, pelarangan membaca kitab syarah (penjelasan) hadits Bulughul Maram oleh pendiri NU itu masih menjadi teka-teki bagi murid Syeikh Hasyim Asy’ari itu sendiri sampai sekarang. Sejalan dengan itu, sampai tahun 1970-an, podok Pesantren Krapyak Yogyakarta pimpinan Kiyai Ali Maksum tokoh NU, tempat  mondok Masdar F Mas’udi --kini tokoh NU yang menginginkan ibadah haji itu wuqufnya di Arafah dan mabitnya di Mina jangan hanya di bulan Dzul Hijjah--, konon dulu masih melarang santrinya membaca koran. Anehnya, di Yogyakarta pula sejak 1995-an muncul kelompok anak-anak NU yang justru gandrung (sangat cinta, untuk tidak disebut ngebet) membaca buku-buku kekiri-kirian misalnya buku Hasan Hanafi tokoh alyasarul Islami (kiri islam) yang banyak dikecam oleh ulama Islamiyun (ulama yang bukan sekuler, bukan kekiri-kirian, dan fahamnya teguh terhadap Islam) di Mesir. Bahkan anak-anak muda NU di Yogyakarta itu menyebarkan faham kekiri-kirian lewat buku-buku terjemahan yang mereka terbitkan. Sampai buku yang menghantam Imam Syafi’i pun mereka edarkan, padahal di tempat dibuatnya buku itu di Mesir, pembuatnya justru sangat dikecam oleh ulama Islamiyun.

    Setahu saya, dulu tokoh penyebaran literatur kekiri-kirian di Yogyakarta ini sering mengaji kitab-kitab ke Pak Tholchah Mansur, dosen IAIN Yogya yang mengadakan pengajian kitab-kitab Riyadhus Sholihin dan semacamnya, kitab Sunnah yang sama sekali jauh dari arah kekiri-kirian. Tetapi kenapa tahu-tahu 20 tahun kemudian menjadi pelopor menyebarkan faham kiri. Apakah karena mereka dikader secara khusus oleh tokoh NU-nya yaitu Gus Dur yang memang anak asuh guru kesayangannya, Ibu Rubi’ah yang orang Gerwani (orang komunis perempuan) dan memang kemudian Gus Dur tampak ingin menghidupkan komunis kembali di Indonesia dengan bukti ingin mencabut TAP MPRS No XXV tahun 1966 tentang pelarangan Komunis di Indonesia, atau memang ada hal-hal lain? Tidak jelas pula.

    Dari gambaran itu, di kalangan NU serba ada hal-hal yang tidak jelas. Kiyai Fulan A melarang santrinya membaca kitab Subulus Salam tanpa alasan yang jelas. Kiyai  Fulan B melarang santrinya membaca koran tanpa alasan yang jelas. Kiyai Fulan muda menjejali  generasi muda NU dengan faham-faham kekiri-kirian tanpa alasan yang jelas pula. Nyonya Fulanah mengajak jama’ahnya untuk berdo’a bersama antar berbagai macam agama di kuburan tanpa hujjah (dalil/ argumentasi) yang jelas. Kiyai Fulan C mengajak do’a bersama antar berbagai macam agama dengan mengatas namakan Indonesia tanpa hujjah yang nggenah. Memang dari beberapa contoh itu sudah bisa ditarik kesimpulan bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah hal-hal yang tidak jelas.
    Apanya yang tidak jelas?

    Yang tidak jelas  adalah cara mereka berbuat, berlagak lagu, berpola pikir, dan bermetode dalam beragama. Karena sudah menyangkut masalah cara beragama, maka penyalahan (kritik tajam) yang dilakukan orang terhadap lakon orang dalam menjalankan agama –yang salah— itu adalah sah. Sebagaimana Nabi Muhammad saw menyuruh sahabatnya untuk mengulangi shalatnya, karena shalatnya kurang benar. Atau  ada pula yang disuruh mengulangi wudhunya, atau Nabi saw menyuruh mengulangi wudhu cucunya dengan cara mengajarkan urutan-urutan praktek wudhu satu persatu dengan maksud agar orang dewasa tahu cara-cara wudhu yang benar. Itu ditampilkan dalam Hadits-hadits, di antaranya di Hadits Al-Bukhari. Atau hal-hal lain berupa sikap Nabi Muhammad saw meluruskan, memberikan teguran, bahkan sampai marah-marah, seperti terhadap sahabat yang membunuh musuh dalam perang jihad melawan orang kafir yang sudah mengucap لااله إلا الله.

     Islam membolehkan peneguran-peneguran seperti itu. Karena Islam adalah agama nasehat. Dan nasehat itu ada pula yang sampai bentuknya marah-marah, apabila memang sikap yang pas adalah marah-marah. Namun tentu saja harus proporsional. Bahkan Islam akan menegakkan hukuman pula terhadap siapa yang melanggar, yang kadar pelanggarannya sampai pada batas dikenakan hukuman. Hingga Nabi Muhammad saw pun bersumpah, seandainya puterinya, Fathimah binti Muhammad, mencuri maka pasti beliau potong tangannya.
   والذي نفسي بيده لو سرقت فاطمة بنت محمد لقطعت يدها.
Demi Dzat yang diriku berada di tanganNya, seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, pasti saya potong tangannya.” (HR Muslim).

    Itu semua adalah mendudukkan masalah pada tempatnya. Bukan hantam kromo, asal ngamuk, asal marah, dan asal main rusak, main bakar, main tebang kayu seenaknya, main kroyok, main paksa dan sebagainya seperti yang diduga dilakukan oleh orang-orang Nahdliyin di Jawa Timur Februari 2001 hanya demi membela Gus Dur agar tidak diturunkan dari jabatan presiden, sekalipun DPR yang mengangkatnya/ memilihnya sebagai presiden itu sudah memutuskan bahwa Presiden Gus Dur diduga terlibat dalam kasus pengucuran dana Yanatera Bulog (yayasan dana kesejahteraan karyawan Badan Urusan Logistik) Rp35 miliar,  dan mulut Gus Dur dinilai tidak konsisten dalam memberikan keterangan tentang sumbangan dari Sultan Brunei Darus Salam, Sultan Hasanal Bolkiah 2 juta dolar Amerika. 

   Asal marah atau asal ucap pun dilakonkan oleh Presiden Gus Dur beserta para pendukungnya, dengan cara mengancam akan membubarkan DPR. Ini ibarat pepatah: air susu dibalas dengan air tuba.  Tidak pantas, orang yang diangkat oleh DPR menjadi presiden, lalu ketika sudah jadi presiden malah mau membubarkan DPR yang mengangkatnya itu. Tidak pantas pula seandainya ada anak yang dilahirkan oleh ibu, lalu ketika si anak merasa dirinya punya pendukung, sedang ibunya menasihati dan minta pertanggungan jawab perbuatan si anak yang diduga terlibat kasus duit dan mulutnya bohong, malah si anak mengancam untuk mengusir sang ibu dari rumah sang ibu itu sendiri.

    Barangkali para pendukung Gus Dur balik berkata: Itu juga sama. Amin Rais dan konco-konconya itu adalah orang yang memprakarsai dipilihnya Gus Dur untuk jadi presiden. Kenapa sekarang justru mereka yang paling getol untuk menurunkan Gus Dur? 

   Untuk menjawab hal itu, cukup dengan kata-kata ringan. Yang namanya nikah saja yang kaitannya harus memakai syarat dan rukun secara cermat agar sah, namun kalau memang kemudian ada hal-hal yang gawat, maka diperbolehkan untuk thalaq. Bahkan, isteri yang sebenarnya tidak punya hak menthalaq pun diberi hak untuk minta dithalaq atau istilahnya gugatan cerai apabila ada masalah yang sesuai syara’ untuk adanya gugatan cerai. Apalagi ini mayoritas pemilih Gus Dur dulu yaitu anggota DPR sudah nyata menginginkan cepatnya Gus Dur turun dari jabatan presiden. Maka sebenarnya, ibarat suami mau menthalaq isteri, tidak ada kekuatan hukum bagi si isteri untuk mengatakan “bagaimanapun saya tidak mau dicerai”, apabila memang prosedurnya sah.  

    Dalam kasus ini ada hadits Nabi saw tentang status pemimpin yang sudah tidak disenangi oleh orang-orang yang dipimpin.

        ثلاثة لا ترفع صلاتهم فوق رؤوسهم شبرا، رجل أم قوما وهم له كارهون، وامرأة باتت وزوجها عليها ساخط، وأخوان متصارمان. (ابن ماجة باسناد حسن).
   “Ada tiga orang yang shalatnya tidak diangkat sejengkalpun di atas kepalanya. Yaitu laki-laki yang mengimami (memimpin) suatu kaum, sedang mereka membencinya. Perempuan yang tidur malam sedang suaminya dalam keadaan marah kepadanya. Dua saudara yang saling memutuskan hubungan kekeluargaan.” (Hadits Riwayat Ibnu Majah dengan sanad hasan).

    Barangkali para pendukung Gus Dur masih mempersoalkan, kalau kebenciannya itu hanya karena golongan?

    Memang pertanyaan itu benar. Tetapi, dalam kasus Gus Dur, dalam kenyataannya justru yang memprakarsai untuk dipilihnya Gus Dur itu adalah kelompok Amien Rais dkk, bukan kelompok PKB. Dengan demikian, tidak bisa dituduhkan bahwa keinginan menurunkan Gus Dur  itu hanya karena benci lantaran golongan. Tetapi justru di situ ketidak senangan itu timbul karena lakon Gus Dur sendiri yang menimbulkan ketidak simpatian. Sedangkan sebaliknya, PKB dan NU bukannya melihat lakonnya, tetapi mereka mendukung itu hanya karena golongan. Kenapa? Karena Gus Dur adalah dulunya ketua umum PBNU, dan juga deklarator PKB, partai telor ayam, di samping partai tai ayam (menurut perkataan Gus Dur, yaitu PKU –Partai Kebangkitan Umat dan PNU –Partai Nahdlatul Umat) yang ketiga-tiganya berarti keluar dari pantat NU, menurut analog yang dikemukakan Gus Dur.
 
    Kalau dulu kaum NO (Nahdlatoel Oelama, ini benar-banar U model lama yaitu Oe ) untuk mempertahankan apa yang disebut bid’ah oleh kaum pembaharu dengan jalan main tegang bahkan bentrok bahkan kafir mengkafirkan, maka kini dalam mempertahankan Gus Dur dengan model ashobiyahnya maka sampai merusak bangunan-bangunan, bahkan masjid, panti asuhan, madrasah, dan menebangi ratusan pohon diambrukkan ke sepanjang jalan. Meskipun demikian, mereka tetap tidak terus terang mengakui tindak pengrusakannya itu, sebagaimana mereka tidak mengakui pula bahwa didirikannya NO (kini NU) itu untuk mengganjal gerakan pemberantasan Bid’ah, khurafat, takhayul, dan kemusyrikan yang dilancarkan oleh Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad dan lainnya. Demikian pula gencarnya sorotan bahwa NO (NU) itu organisasi yang didukung Belanda bahkan BEF dalam bekerjasama untuk menghadapi kaum pembaharu dulu nyaring terdengar, sebagaimana kenyataan sekarang para tokoh NU berkasih sayang dengan Yahudi, Nasrani, bahkan anak cucu PKI yang memang ajarannya anti Tuhan demi menghadapi musuh, yang menurut  Gus Dur musuh terbesarnya itu adalah Islam kanan. Di zaman Orde Lama, saat Presiden Soekarno pro PKI maka NU bergabung dalam Nasakom, Nasional, Agama (NU), dan Komunis. Zaman Orde Baru, ketika Presiden Soeharto memaksakan asas tunggal pancasila, NU ambil muka untuk jadi barisan terdepan dalam rangka pemaksaan itu. Dari berbagai data dan fakta ini berarti sikap ketidak jelasan  NU dari dulu sampai kini sudah cukup jelas. 


Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

Kunjungi juga:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teman-Teman Inilah DiaSistem Mengenakan Pakaian Ihram bagi Laki-Laki dan Perempuan

Ihram yakni roman seseorang yang setelah beniat sepanjang mengerjakan ibadah haji dan atau umrah. Mereka yang menyelenggarakan ihram disebut plus kata tunggal "muhrim" dan lazim "muhrimun". benih jamaah haji dan umrah pantas menyelenggarakannya sebelum di miqat dan diakhiri oleh tahallul. Baca juga: travel umroh jakarta terbaik costum ihram yang digunakan adalah setelan ceria yang kagak boleh dijahit (bagi pria) dan disunnahkan berpoleng putih. tambah mengenakan baju ihram ini bermakna mengidentifikasi dimulainya ibadah haji atau umrah per dari miqatnya. seterusnya ragam memerlukan pakaian ihram: BAGI pria: baju ihram atas pria terdiri dari dua helai kain, satu keping melilit jasmani dari pinggang hingga di lembah (bukit) lutut dan sehelai sedang diselempangkan sejak dari bahu kiri ke lembah (bukit) ketiak kanan. Selengkapnya kuasa dilihat plong gambar: 1.Pilihlah satu lampir kain yang bertambah panjang menurut dipakai di elemen kecil wadah 2.Bentangkan letak kedua ...

Halo Rekan-Rekan BerikutPeraturan Menerapkan Baju Ihram bagi Lelaki dan Perempuan

Ihram adalah laksana seseorang yang setelah beniat demi mengoperasikan ibadah haji dan atau umrah. Mereka yang mewujudkan ihram disebut bersama-sama sebutan tunggal "muhrim" dan natural "muhrimun". benih jamaah haji dan umrah pantas menjelmakannya sebelum di miqat dan diakhiri demi tahallul. Baca juga: tour and travel umroh jakarta busana ihram yang digunakan merupakan setelan murni yang tak boleh dijahit (bagi laki-laki) dan disunnahkan bercorak putih. seraya mengenakan pakaian ihram ini berjasa menandai dimulainya ibadah haji atau umrah mulai dari miqatnya. beserta orde mengikuti busana ihram: BAGI laki-laki: pakaian ihram lumayan putra terdiri dari dua eksemplar kain, satu helai mencerut fisik dari pinggang sempadan di dasar lutut dan sehelai sedang diselempangkan semenjak dari bahu kiri ke rendah ketiak kanan. Selengkapnya kuasa dilihat tenang gambar: 1.Pilihlah satu eksemplar kain yang kian panjang selama dipakai di zat pendek majelis 2.Bentangkan jabatan kedu...

8 Jenis Bahan Kain Untuk Membuat jaket racing

Jakcet ialah baju luar yang panjang rata-rata tumpu pinggang atau pinggul, untungnya untuk menahan angin dan menghangatkan fisik tatkala keadaan dingin. Model Jacket demi adam dan perempuan umumnya berjarak, terutama dari kesukaan warna, reduksi dan tatanannya.Jacket sama dengan seragam luar yang panjang lazimnya takat pinggang atau pinggul, gunanya menjelang menahan angin dan menghangatkan jasmani demi situasi dingin. Model Jacket bagi maskulin dan perempuan lazimnya senjang, teristimewa dari alternatif warna, irisan dan formatnya. Hampir segenap Jacket menyedot bukaan dan resleting atau kancing pada distribusi permulaan yang terpasang dari leher batas ujung bawahnya. tetapi, ada kurang lebih Jakcet lagi yang tidak ada bukaan pada serpih pendahuluannya. Selain modelnya, spesies congkong kain yang dipakai sepanjang pembuatan Jaket jua beraneka warna. Mulai dari masukan Jacket yang tipis dan tebal, ada lagi yang anti air dan angin, limit pelajaran Jacket dari kulit alami. Tapi tidak sel...