Allah SWT berfirman dalam Surat Yunus/10: 90, 91, 92:
وجوزنا ...................... 90 ......................... 91 ............... لغفلون
92
“Dan Kami
memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan
bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka; hingga bila
Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada
Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk
orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.
Apakah sekarang
(baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan
kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
Maka pada hari
ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang
yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari
tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS Yunus/10:
90,91,92).
Allah Ta’ala
menyebutkan cara Dia dalam menenggelamkan Fir’aun dan pasukannya, karena
sesungguhnya Bani Israil ketika meninggalkan Mesir bersama Nabi Musa AS
dikhabarkan berjumlah 600.000 pejuang, selain kelompok pemuda-pemuda. Karena
kemarahan Fir’aun terhadap mereka semakin keras, maka Fir’aun mengirim
pasukan-pasukan ditambah dengan pasukan-pasukan dan serdadu-serdadu yang
jumlahnya sangat banyak. Lalu mereka menyusul Musa dan pasukannya pada waktu
mata hari terbit.
Maka setelah
kedua golongan itu saling melihat, pengikut-pengikut Musa berkata: “Sesungguhnya
kita akan tersusul.” (QS 26:61). Yaitu ketika mereka telah sampai di pinggir
laut, dan Fir’aun di belakang mereka, dan tidak ada waktu lagi bagi kedua
pasukan itu kecuali bertempur, dan pengikut-pengikut Nabi Musa AS terus menerus
melontarkan pertanyaan: “Bagaimana kami bisa lolos dari kepungan ini?” Maka Nabi
Musa berkata: ”Aku disuruh untuk melewatai jalan ini.”
“Sekali-kali
tidak akan tersusul; Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, kelak Dia akan memberi
petunjuk kepadaku.” (QS 26:62). Jika keadaan sudah sempit, maka ia akan
menjadi luas, lalu Allah menyuruh Musa agar dia memukul laut dengan tongkatnya,
maka dia segera memukulnya, lalu terbelahlah lautan itu, dan tiap-tiap bagian
bagaikan gunung yang besar, maka menjadilah 12 jalan, untuk tiap-tiap satu
regu, dan Allah menyuruh angin untuk mengeringkan tanahnya.
“Maka buatlah
untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul
dan tak usah takut (akan tenggelam). (QS 20: 77). Dan air terbelah-belah di
antara jalan-jalan itu, persis seperti jendela-jendela, agar tiap-tiap kaum
dapat melihat kaum yang lainnya, supaya tidak mengira bahwa mereka binasa.
Bani Israil telah
melewati lautan, dan ketika rombongan terakhir mereka telah keluar dari laut,
Fir’aun dan pasukannya telah sampai di tepi laut, di seberang yang lain. Dia
bersama 100.000 pasukan, belum lagi pasukan yang belum nampak, ketika dia lihat
kejadian itu, dia merasa takut, ingin mundur, gemetar dan memutuskan untuk
kembali.Akan tetapi usahanya itu sia-sia, dan tidak ada tempat yang aman
baginya. Takdir telah ditentukan, do’a telah dikabulkan. Dan Jibril telah datang
dengan menunggang kuda, kemudian dia lewat di samping kuda Fir’aun, dan
meringkik kepada kuda itu, dan Jibril memasuki lautan, maka kuda di belakangnya
ikut masuk juga, akhirnya Fir’aun bingung tidak bisa menguasai dirinya sendiri,
kemudian berusaha menyabarkan menteri-menterinya, dan dia berkata kepada mereka:
“Kita lebih berhak dengan lautan daripada Bani Israil”. Maka mereka semua
memasuki lautan hingga pasukan terakhir, sedangkan Mikail menggiring mereka
hingga tidak tersisa satupun dari mereka. Ketika mereka telah masuk ke dalam
laut semuanya, dan yang pertama telah menginginkan untuk keluar dari laut itu,
Allah Yang Maha Kuasa menyuruh lautan untuk mengacaukan mereka, maka tidak
satupun dari mereka selamat. Ombak memutar balikkan mereka dan bertubi-tubi
menghantam Fir’aun, akhirnya dia menemui sekarat kematian. Di saat itu Fir’aun
berkata: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai
oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada
Allah) (QS 10: 90). Maka dia beriman di saat iman sudah tidak bermanfaat
lagi: Maka tatkala mereka melihat adzab Kami, mereka berkata, “kami beriman
hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami
sekutukan dengan Allah. Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala
mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap
hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir.” (QS
40:84-85).
Maka dari itu Allah
Ta’ala berfirman untuk menjawab Fir’aun: “Apakah sekarang (baru kamu
percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dulu” (QS 10:91),
maksudnya apakah saat ini kamu berkata, sedangkan kamu telah bermaksiat kepada
Allah sebelum ini dalam hal di antara kamu dan Dia. “Dan kamu termasuk
orang-orang yang berbuat kerusakan”, maksudnya di dunia mereka itu telah
menyesatkan manusia.
Hari kematian mereka
(Fir’aun dan wadyabalanya) adalah hari ‘Asyura (10 Muharram), sebagaimana yang
diriwayatakan Al-Bukhari dari Ibnu Abbas yang berkata: Rasulullah saw datang ke
Madinah, sedangkan orang-orang Yahudi berpuasa, lalu beliau berkata: Hari apa
yang kalian berpuasa ini? Maka mereka menjawab, ini adalah hari di mana Musa
meraih kemenangan atas Fir’aun. Kemudian Nabi saw bersabda kepada
sahabat-sahabatnya: Kamu lebih berhak dengan
Musa daripada mereka, maka berpuasalah kamu semua.
Ayat selanjutnya,
Allah berfirman, yang artinya:
“Dan sesungguhnya
Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus dan Kami beri
mereka rezki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih kecuali setelah
datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat). Sesungguhnya
Tuhan kamu akan memutuskan antara mereka di hari kiamat tentang apa yang mereka
perselisihkan itu.” (QS Yunus/ 10:93).
Sesudah Allah
mengakhiri kisah Fir’aun, maka pada ayat ini Allah menyebutkan riwayat Bani
Israil, setibanya mereka pada tempat yang dijanjikan Tuhan. Allah telah
menempatkan mereka di negeri yang indah yaitu negeri Palestina. Sebagaimana
diterangkan pula dalam ayat yang lain firman Allah di QS
Al-A’raaf/7:137.
Allah melimpahkan
rezki yang baik-baik lagi bermacam-macam kepada Bani Israil. Tetapi kemudian
timbul perselisihan yang besar di kalangan mereka sesudah mereka mempelajari
kitab Taurat dan memperhatikan hukum-hukum-Nya. Firman Allah:
Artinya: Tiada
berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab kecuali sesudah datang
pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian yang ada di antara mereka.” (QS
Ali Imran/ 3:19).
Mereka tidak segan
memutar balikkan pengertian ayat dari arti yang sebenarnya. Firman
Allah:
Artinya: “Yaitu
rang-orang Yahudi, mereka merobah perkataan dari tempatnya.” (QS An-Nisaa’/
4:46)..
Mereka itu, akibat
kekeliruan berpikir dan menurutkan hawa nafsu, mengutamakan kekafiran daripada
keimanan, mendahulukan kejahatan daripada kebaikan.
Mengacak-acak agama lewat lembaga
resmi
Kedhaliman Fir’aun
sudah berlalu. Bani Israil tidak menghadapi tekanan lagi. Namun justru mereka
mengacak-acak agama dengan memutar balikkan ayat-ayat Allah semau-mau mereka.
Agama yang merupakan petunjuk diubah menjadi jalan kesesatan. Hingga terjadi
perselisihan-perselisihan hebat.
Kejadian yang
dialami oleh Bani Israil itu tampaknya kini justru di Indonesia diprogramkan.
Diselenggarakanlah pembelajaran 300-an dosen IAIN, sejak 1975 zaman Menteri
Agama Mukti Ali sampai kini tahun 2000, yang dinamakan studi Islam ke luar
negeri, namun bukan kepada ahlinya, dan bukan kepada ulama shalih yang bermanhaj
(metode) shahih/ benar. Tetapi belajar ke negeri kafir (harbi/ musuh) atas
nama belajar Islam. Kemudian mereka pulang dengan mengantongi gelar doktor dan
mengajar di perguruan-perguruan tinggi Islam dan duduk di lembaga-lembaga
strategis. Juga mereka itu berbicara di seminar-seminar, menulis buku, artikel,
dan aneka karangan. Tidak jarang mereka mewarisi watak-watak atau sifat-sifat
Yahudi yang dijelaskan dalam Al-Qur’an yaitu yuharrifuunal kalima ‘an
mawaadhi’ih, merobah perkataan (Allah) dari tempatnya. Akibatnya, masyarakat
jadi kacau balau pemahamannya.
Apa yang terjadi
kemudian? Ternyata program Yahudi itu sangat mengacaukan. Masyarakat awam yang
memang kurang tahu tentang Islam menjadi bingung atau membebek saja kepada para
perobah makna kalimah Allah itu karena ummat silau terhadap titel dan
kepangkatan mereka. Sedang para intelektualnya pun karena rata-rata awam agama
maka mereka juga hanya menjadi pembebek dari intelektual Muslim yang tadinya
menyusu kepada kafirin harbiyin itu. Sementara itu generasi mahasiswa baik S1,
S2, maupun S3 terpaksa dicocok hidungnya untuk mengikuti program-program studi
yang mereka canangkan. Maka kaburlah semuanya, paling tidak, Islam di Indonesia
ini telah kabur dari segi manhajnya.
Kalau tidak percaya,
bisa kita buktikan ketika mereka berbicara di seminar-seminar, menulis di
media-media massa, dan buku-buku karangan mereka. Ketika penulis menjadi salah
satu pengoreksi naskah-naskah lomba khutbah tingkat nasional yang diadakan oleh
lembaga Islam di Jakarta dan Surabaya tahun 1421H, ternyata tulisan-tulisan dari
sarjana-sarjana keluaran IAIN (Institut Agama Islam Negeri) baik doktornya
maupun S1 nya rata-rata bisa diambil kesimpulan manhajnya tidak jelas. Padahal
dalam Islam, setiap ilmu itu manhajnya jelas, dan apabila ada perbedaan pendapat
maka bisa dilacak mana yang paling rojih/ kuat. Atau kalau ada yang sama-sama
kuat argumentasinya maka bisa diketahui pula bahwa itu dua-duanya kuat
hujjahnya. Namun tampaknya kini telah dibangun manhaj (metode) amburadul dan
tidak jelas oleh orang-orang yang tadinya menyusu ke kafirin harbiyin. Sehingga,
jangan heran kalau mereka melontarkan kata-kata dalam membela pendapat yang
nyeleneh cukup dengan ungkapan: “Ini dikatakan tidak sesuai, itu menurut
tafsiran siapa?”
Seolah-olah
mereka mengatakan, Al-Qur’an itu boleh saja ditafsirkan menurut siapa saja.
Itulah bukti keamburadulannya. Jadi kekacauan dan keterpecah belahan Bani Israil
yang sudah nyata terjadi itu justru kini dikembang biakkan. Disemaikan untuk
ditumbuh suburkan. Agar Islam runtuh seruntuh-runtuhnya, dan ummatnya tercerai
berai sejadi-jadinya. Maka sebelum terlambat, mesti diadakan perombakan sistem
pendidikan Islam di Indonesia ini, diganti dengan manhaj yang Islami, sesuai
dengan kaidah-kaidah ilmiah Islamiyah. Bukan seperti sekarang yang menuju kepada
Yahudinisasi alias pecah belah tak keruan, menuju kepada kesesatan. Masih tidak
percaya? Mana ada di dunia ini selain Indonesia, orang yang termasuk anggota
Dewan Fatwa majelis Ulama, yaitu Masdar F Mas’udi (alumni IAIN), yang
memfatwakan agar waktu haji itu diperlebar tidak hanya seperti yang telah
dicontohkan Nabi SAW. Mana ada selain di Indonesia, perempuan yang mengaku
dirinya Imam Mahdi, yaitu Lia Aminuddin, yang malahan diundang ke lingkungan
IAIN Jakarta untuk berbicara mendukung faham reinkarnasi yang ditulis dalam buku
Anand Krishna dan diamini pula oleh beberapa doktor di IAIN Jakarta dan Yayasan
Paramadina bahwa reinkarnasi itu benar. Dan masih banyak kejadian aneh lainnya,
di samping faham-faham dan aliran sesat yang justru mereka dukung dengan aneka
cara.
Memerangi
orang murtad dengan sebutan perang riddah telah dicontohkan secara nyata oleh
Khalifah Abu Bakar. Maka memerangi pemurtadan --yang dilancarkan dengan
penyesatan-penyesatan yang kini justru diprogramkan secara sistematis itu--
mesti dilaksanakan pula. Agar ummat Islam tidak disesatkan dan dimurtadkan oleh
pikiran-pikiran aneh mereka.
Komentar
Posting Komentar