Faham yang menyesatkan itu ternyata bisa ketemu dari
berbagai seginya. Dari yang dihembuskan oleh munafiqin, musyakkikin
(penyebar keragu-raguan) mutashowwifin (para orang yang bertasawuf)
lebih-lebih yang falsafi, ilmaniyyin (para orang yang sekuler),
muwahhidil Adyaan (para orang yang berfaham pluralisme, menyamakan semua
agama) mereka bisa ketemu di tasawuf. Karena di tasawuf lah yang metodenya
longgar, tidak mementingkan shahih atau tidaknya suatu nash (teks)
ataupun sumber yang dianggap sebagai dalil. Dan di sisi lain, keuntungan
pihak-pihak perusak agama itu dalam bergabung dengan tasawuf adalah karena telah
terbinanya suatu citra tipuan yang dihembuskan kepada masyarakat, bahwa untuk
meningkatkan kesalehan seseorang itu perlu melalui tasawuf. Maka, secara
langsung atau tidak, Ummat Islam ini digiring ke arah kesesatan secara nyata
lewat tasawuf, yang pada dasarnya adalah ke arah hutan kesesatan, namun
penggiringan itu mengambil kedok sebagai peningkatan kepada kesalehan. Ini
benar-benar bahaya massal, namun tidak banyak disadari oleh Ummat Islam, baik
yang mengaku ulama maupun intelektual Islam.
Taruhlah misalnya mereka masih
ngotot dan berdalih bahwa tasawuf yang mereka jajakan itu benar-benar hanya
untuk menyucikan jiwa, coba dibuktikan, bisa dipastikan bahwa manhaj (metode)
istidlal (pengambilan dalil) yang mereka gunakan tetap tidak ketat dalam
menyeleksi shohih tidaknya nash ataupun sumber. Padahal pembahasan mereka
menyangkut hal-hal ghaib dan aqidah, yang hal itu menurut Islam sumbernya
hanyalah wahyu, yaitu Al-Qur’an dan hadits yang shohih. Namun para penjaja
tasawuf itu tidak jarang hanya mengemukakan sumber berupa kisah syekh anu, wali
anu, mimpinya syekh Fulan dsb. Model-model seperti itu masih pula bahkan kadang
justru disertai upaya memperbodoh Ummat dan menipunya dengan cara seperti itu,
yakni melestarikan penggiringan ke arah kesesatan massal. Sebagaimana para
pendeta dan rahib-rahib Yahudi telah mencontohinya, dan dikisahkan secara
otentik dalam Al-Qur’an. Hingga yang terjadi di masyarakat adalah suatu kejadian
umum yang sebenarnya adalah ironis: Yahudinya mereka kecam, namun lakon buruk
dan jahatnya mereka tiru dan terapkan untuk menjerumuskan Ummat, sambil
meninggikan derajat pelaku-pelaku peniru rahib itu agar seperti derajat para
rahib di hadapan kaum Yahudi, yang ciri khasnya adalah tidak mencegah dosa dan
kemunkaran, namun bahkan memakan riba dan dari jalan mengicuh, menipu dan
membodohi Ummat, serta mengubah hukum-hukum Allah SWT.
Contoh
kecil, tidak jarang kita temui, muballigh mengecam-ngecam tingkah Yahudi yang
membantai Muslimin Palestina dengan sadisnya, ataupun ganasnya kaum Nasrani di
berabagi tempat dalam membantai Ummat Islam dan mengadakan pemurtadan di
mana-mana. Namun, mengecamnya itu di dalam acara bid’ah berupa maulid nabi.
Pidato itu diungkapkan dengan menggebu-gebu, tampaknya benar-benar mengecam
Yahudi Bani Israel dan kaum Salibis yang mengadakan pemurtadan Ummat Islam.
Namun, di dalam mengecam Yahudi itu sendiri muballigh ini adalah mengamalkan
ajaran model Yahudi dan Nasrani secara umum dalam mengada-adakan bid’ah dalam
agama. Kalau Nasrani contohnya yaitu natalan, kalau ahli bid’ah yaitu
meniru-niru memperingati kelahiran nabinya. Itu kan ironis. Kata pepatah Arab,
bukan termasuk kebaikan, meletakkan sesuatu yang baik namun tidak pada
tempatnya.
Lantas, barangkali mereka masih berdalih bahwa koreksi semacam ini hanya
mengada-ada, menambah ruwetnya suasana, dan menambah perpecahan belaka. Bahkan
tak lebih hanya mempersoalkan yang kecil, untuk menjegal sesuatu yang
besar.
Secara
sekilas, kilah semacam itu (yaitu membela maulid nabi, dan bid’ah-bid’ah
lainnya, dan tidak terima kalau dikritik) itu seakan benar. Tetapi perlu
diingat, bahwa untuk memperbaiki Ummat Islam ini sebenarnya hanya bisa dengan
jalan yang pernah ditempuh Ummat Islam terdahulu, yaitu dengan menepati perintah
dan larangan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak bisa dengan jalan lainnya. Lantas,
mengada-adakan suatu perkara dalam agama (istilahnya bid’ah), yang hal itu
merupakan larangan, maka mana mungkin cara itu bisa dijadikan jalan atau salah
satu jalan untuk memperbaiki Ummat, apalagi melawan musuh Islam? Mana mungkin
Ummat ini akan menjadi Ummat yang baik, kalau dalam melawan musuh Islam justru
melakukan hal-hal buruk yang dilakukan musuh Islam? Dan mana mungkin Allah SWT
memberikan pertolonganNya kepada orang-orang yang meniru-niru keburukan kaum
yang maghdhubi ‘alaihim dan dhoolliin (dimurkai dan sesat)? Dan
mana mungkin Allah akan menolong orang-orang yang menghadapi musuh Allah namun
bukan untuk meninggikan kalimah Allah yang murni, tetapi kalimah Allah yang
sudah dicampuri dengan tiruan-tiruan bikinan musuh Allah?
Jadi
di sini jelas, masalahnya koreksian terhadap bid’ah ini bukan lantaran
membesar-besarkan yang kecil atau bahkan memecah belah Ummat, namun justru ingin
memberikan sumbangan kepada Ummat bahwa seharusnya kita menyadari betapa selama
ini telah tidak menyadari pelanggaran-pelanggaran yang dianggap biasa, padahal
sebenarnya memperbodoh dan menyesatkan Ummat. Lantas bagaimana kalau hal ini
dibiarkan terus menerus dan bahkan dikembang suburkan oleh kita sendiri, hingga
tahu-tahu kita dilibas oleh pihak-pihak yang punya kepentingan merusak Islam
yang bergabung dalam kancah itu yang mereka ketahui efektif untuk merusak Islam
namun Ummat Islam sendiri tak menyadari, bahkan mempertahankannya mati-matian?
Bukankah itu berarti kita justru berada pada barisan musuh Islam, atau paling
kurang pada barisan yang telah dicemari oleh musuh Islam, namun merasa bahwa
diri kita berada pada penyeru Islam yang benar? Tragis. Dan memang kalau Ummat
ini tetap dipacu untuk mempertahankan bid’ah tentu saja nasibnya tragis.
Menyedihkan. Bukan hanya tidak jaya di akherat, namun di dunia ini pun hanya
menjadi bulan-bulanan musuh-musuh Allah, baik itu syetan berupa manusia maupun
syetan berupa jin. Sekalipun mereka mengaku melakukan perlawanan terhadap hawa
nafsu dan mereka klaim sebagai jihad tertinggi, namun kalau kenyataannya justru
mempertahankan bid’ah, itu bukannya melawan namun justru menjadi budak hawa
nafsu. Dan salah satu buktinya, apabila mendengar kritikan seperti ini, boleh
dibuktikan, biasanya mereka marah sejadi-jadinya, sesuai dengan kemauan hawa
nafsunya.
Jalan keluarnya
Bagaimana menghadapi itu semua? Tentu saja kita harus kembali kepada Al-Qur’an
dan As-Sunnah shahihah sesuai dengan pemahaman yang disampaikan oleh Nabi saw,
difahami dan diamalkan oleh para sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in. Itulah
jalan dan manhaj yang perlu ditempuh oleh Ummat Islam, setelah aneka jenis
penyelewengan telah dibidikkan dan bahkan dijejalkan kepada Ummat ini dengan
aneka cara. Ibarat cara-cara munafiqin dalam membangun masjid dhirar adalah
dengan dalih untuk menolong kaum tua, kaum lemah yang tidak tahan dinginnya
malam, agar dekat tempatnya dsb. Dalih-dalih itu wajib dipatahkan, sedang
bangunan mereka pun wajib dihancur leburkan. Demikian pula bangunan berupa
pemahaman dan pemikiran yang merusak Islam, wajib dihancur leburkan, dibalikkan
kepada pencetus dan penganjur-penganjurnya, agar menimbuni mereka bagaikan
longsoran bangunan yang akan menimpa mereka di jahannam, sebagaimana digambarkan
dalam Al-Qur’an.
Tasawuf, Pluralisme, & Pemurtadan.
- H Hartono Ahmad Jaiz -
Kunjungi juga:

Komentar
Posting Komentar