Langsung ke konten utama

Aneka kesesatan bisa bertemu di tasawuf

Faham yang menyesatkan itu ternyata bisa ketemu dari berbagai seginya. Dari yang dihembuskan oleh munafiqin, musyakkikin (penyebar keragu-raguan) mutashowwifin (para orang yang bertasawuf) lebih-lebih yang falsafi, ilmaniyyin (para orang yang sekuler), muwahhidil Adyaan (para orang yang berfaham pluralisme, menyamakan semua agama) mereka bisa ketemu di tasawuf. Karena di tasawuf lah yang metodenya longgar, tidak mementingkan shahih atau tidaknya suatu nash (teks) ataupun sumber yang dianggap sebagai dalil. Dan di sisi lain, keuntungan pihak-pihak perusak agama itu dalam bergabung dengan tasawuf adalah karena telah terbinanya suatu citra tipuan yang dihembuskan kepada masyarakat, bahwa untuk meningkatkan kesalehan seseorang itu perlu melalui tasawuf. Maka, secara langsung atau tidak, Ummat Islam ini digiring ke arah kesesatan secara nyata lewat tasawuf, yang pada dasarnya adalah ke arah hutan kesesatan, namun penggiringan itu mengambil kedok sebagai peningkatan kepada kesalehan. Ini benar-benar bahaya massal, namun tidak banyak disadari oleh Ummat Islam, baik yang mengaku ulama maupun intelektual Islam. 

Taruhlah misalnya mereka masih ngotot dan berdalih bahwa tasawuf yang mereka jajakan itu benar-benar hanya untuk menyucikan jiwa, coba dibuktikan, bisa dipastikan bahwa manhaj (metode) istidlal (pengambilan dalil) yang mereka gunakan tetap tidak ketat dalam menyeleksi shohih tidaknya nash ataupun sumber. Padahal pembahasan mereka menyangkut hal-hal ghaib dan aqidah, yang hal itu menurut Islam sumbernya hanyalah wahyu, yaitu Al-Qur’an dan hadits yang shohih. Namun para penjaja tasawuf itu tidak jarang hanya mengemukakan sumber berupa kisah syekh anu, wali anu, mimpinya syekh Fulan dsb. Model-model seperti itu masih pula bahkan kadang justru disertai upaya memperbodoh Ummat dan menipunya dengan cara seperti itu, yakni melestarikan penggiringan ke arah kesesatan massal. Sebagaimana para pendeta dan rahib-rahib Yahudi telah mencontohinya, dan dikisahkan secara otentik dalam Al-Qur’an. Hingga yang terjadi di masyarakat adalah suatu kejadian umum yang sebenarnya adalah ironis: Yahudinya mereka kecam, namun lakon buruk dan jahatnya mereka tiru dan terapkan untuk menjerumuskan Ummat, sambil meninggikan derajat pelaku-pelaku peniru rahib itu agar seperti derajat para rahib di hadapan kaum Yahudi, yang ciri khasnya adalah tidak mencegah dosa dan kemunkaran, namun bahkan memakan riba dan dari jalan  mengicuh, menipu dan membodohi Ummat, serta mengubah hukum-hukum Allah SWT.  

   Contoh kecil, tidak jarang kita temui, muballigh mengecam-ngecam tingkah Yahudi yang membantai Muslimin Palestina dengan sadisnya, ataupun ganasnya kaum Nasrani di berabagi tempat dalam membantai Ummat Islam dan mengadakan pemurtadan di mana-mana. Namun, mengecamnya itu di dalam acara bid’ah berupa maulid nabi. Pidato itu diungkapkan dengan menggebu-gebu, tampaknya benar-benar mengecam Yahudi Bani Israel dan kaum Salibis yang mengadakan pemurtadan Ummat Islam. Namun, di dalam mengecam Yahudi itu sendiri muballigh ini adalah mengamalkan ajaran model Yahudi dan Nasrani secara umum dalam mengada-adakan bid’ah dalam agama. Kalau Nasrani contohnya yaitu natalan, kalau ahli bid’ah yaitu meniru-niru memperingati kelahiran nabinya. Itu kan ironis. Kata pepatah Arab, bukan termasuk kebaikan, meletakkan sesuatu yang baik namun tidak pada tempatnya. 

    Lantas, barangkali mereka masih berdalih bahwa koreksi semacam ini hanya mengada-ada, menambah ruwetnya suasana, dan menambah perpecahan belaka. Bahkan tak lebih hanya mempersoalkan yang kecil, untuk menjegal sesuatu yang besar.

   Secara sekilas, kilah semacam itu (yaitu membela maulid nabi, dan bid’ah-bid’ah lainnya, dan tidak terima kalau dikritik) itu seakan benar. Tetapi perlu diingat, bahwa untuk memperbaiki Ummat Islam ini sebenarnya hanya bisa dengan jalan yang pernah ditempuh Ummat Islam terdahulu, yaitu dengan menepati perintah dan larangan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak bisa dengan jalan lainnya. Lantas, mengada-adakan suatu perkara dalam agama (istilahnya bid’ah), yang hal itu merupakan larangan, maka mana mungkin cara itu bisa dijadikan jalan atau salah satu jalan untuk memperbaiki Ummat, apalagi melawan musuh Islam? Mana mungkin Ummat ini akan menjadi Ummat yang baik, kalau dalam melawan musuh Islam justru melakukan hal-hal buruk yang dilakukan musuh Islam? Dan mana mungkin Allah SWT memberikan pertolonganNya kepada orang-orang yang meniru-niru keburukan kaum yang maghdhubi ‘alaihim dan dhoolliin (dimurkai dan sesat)? Dan mana mungkin Allah akan menolong orang-orang yang menghadapi musuh Allah namun bukan untuk meninggikan kalimah Allah yang murni, tetapi kalimah Allah yang sudah dicampuri dengan tiruan-tiruan bikinan musuh Allah? 

    Jadi di sini jelas, masalahnya koreksian terhadap bid’ah ini bukan lantaran membesar-besarkan yang kecil atau bahkan memecah belah Ummat, namun justru ingin memberikan sumbangan kepada Ummat bahwa seharusnya kita menyadari betapa selama ini telah tidak menyadari pelanggaran-pelanggaran yang dianggap biasa, padahal sebenarnya memperbodoh dan menyesatkan Ummat. Lantas bagaimana kalau hal ini dibiarkan terus menerus dan bahkan dikembang suburkan oleh kita sendiri, hingga tahu-tahu kita dilibas oleh pihak-pihak yang punya kepentingan merusak Islam yang bergabung dalam kancah itu yang mereka ketahui efektif untuk merusak Islam namun Ummat Islam sendiri tak menyadari, bahkan mempertahankannya mati-matian? Bukankah itu berarti kita justru berada pada barisan musuh Islam, atau paling kurang pada barisan yang telah dicemari oleh musuh Islam,  namun  merasa bahwa diri kita berada pada penyeru Islam yang benar? Tragis. Dan memang kalau Ummat ini tetap dipacu untuk mempertahankan bid’ah tentu saja nasibnya tragis. Menyedihkan. Bukan hanya tidak jaya di akherat, namun di dunia ini pun hanya menjadi bulan-bulanan musuh-musuh Allah, baik itu syetan berupa manusia maupun syetan berupa jin. Sekalipun mereka mengaku melakukan perlawanan terhadap hawa nafsu dan mereka klaim sebagai jihad tertinggi, namun kalau kenyataannya justru mempertahankan bid’ah, itu bukannya melawan namun justru menjadi budak hawa nafsu. Dan salah satu buktinya, apabila mendengar kritikan seperti ini, boleh dibuktikan, biasanya mereka marah sejadi-jadinya, sesuai dengan kemauan hawa nafsunya. 

   Jalan keluarnya 

   Bagaimana menghadapi itu semua? Tentu saja kita harus kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah shahihah sesuai dengan pemahaman yang disampaikan oleh Nabi saw, difahami dan diamalkan oleh para sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in. Itulah jalan dan manhaj yang perlu ditempuh oleh Ummat Islam, setelah aneka jenis penyelewengan telah dibidikkan dan bahkan dijejalkan kepada Ummat ini dengan aneka cara. Ibarat cara-cara munafiqin dalam membangun masjid dhirar adalah dengan dalih untuk menolong kaum tua, kaum lemah yang tidak tahan dinginnya malam, agar dekat tempatnya dsb. Dalih-dalih itu wajib dipatahkan, sedang bangunan mereka pun wajib dihancur leburkan. Demikian pula bangunan berupa pemahaman dan pemikiran yang merusak Islam, wajib dihancur leburkan, dibalikkan kepada pencetus dan penganjur-penganjurnya, agar menimbuni mereka bagaikan longsoran bangunan yang akan menimpa mereka di jahannam, sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an.
 

Tasawuf, Pluralisme, & Pemurtadan.
- H Hartono Ahmad Jaiz -

Kunjungi juga:



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teman-Teman Inilah DiaSistem Mengenakan Pakaian Ihram bagi Laki-Laki dan Perempuan

Ihram yakni roman seseorang yang setelah beniat sepanjang mengerjakan ibadah haji dan atau umrah. Mereka yang menyelenggarakan ihram disebut plus kata tunggal "muhrim" dan lazim "muhrimun". benih jamaah haji dan umrah pantas menyelenggarakannya sebelum di miqat dan diakhiri oleh tahallul. Baca juga: travel umroh jakarta terbaik costum ihram yang digunakan adalah setelan ceria yang kagak boleh dijahit (bagi pria) dan disunnahkan berpoleng putih. tambah mengenakan baju ihram ini bermakna mengidentifikasi dimulainya ibadah haji atau umrah per dari miqatnya. seterusnya ragam memerlukan pakaian ihram: BAGI pria: baju ihram atas pria terdiri dari dua helai kain, satu keping melilit jasmani dari pinggang hingga di lembah (bukit) lutut dan sehelai sedang diselempangkan sejak dari bahu kiri ke lembah (bukit) ketiak kanan. Selengkapnya kuasa dilihat plong gambar: 1.Pilihlah satu lampir kain yang bertambah panjang menurut dipakai di elemen kecil wadah 2.Bentangkan letak kedua ...

Halo Rekan-Rekan BerikutPeraturan Menerapkan Baju Ihram bagi Lelaki dan Perempuan

Ihram adalah laksana seseorang yang setelah beniat demi mengoperasikan ibadah haji dan atau umrah. Mereka yang mewujudkan ihram disebut bersama-sama sebutan tunggal "muhrim" dan natural "muhrimun". benih jamaah haji dan umrah pantas menjelmakannya sebelum di miqat dan diakhiri demi tahallul. Baca juga: tour and travel umroh jakarta busana ihram yang digunakan merupakan setelan murni yang tak boleh dijahit (bagi laki-laki) dan disunnahkan bercorak putih. seraya mengenakan pakaian ihram ini berjasa menandai dimulainya ibadah haji atau umrah mulai dari miqatnya. beserta orde mengikuti busana ihram: BAGI laki-laki: pakaian ihram lumayan putra terdiri dari dua eksemplar kain, satu helai mencerut fisik dari pinggang sempadan di dasar lutut dan sehelai sedang diselempangkan semenjak dari bahu kiri ke rendah ketiak kanan. Selengkapnya kuasa dilihat tenang gambar: 1.Pilihlah satu eksemplar kain yang kian panjang selama dipakai di zat pendek majelis 2.Bentangkan jabatan kedu...

8 Jenis Bahan Kain Untuk Membuat jaket racing

Jakcet ialah baju luar yang panjang rata-rata tumpu pinggang atau pinggul, untungnya untuk menahan angin dan menghangatkan fisik tatkala keadaan dingin. Model Jacket demi adam dan perempuan umumnya berjarak, terutama dari kesukaan warna, reduksi dan tatanannya.Jacket sama dengan seragam luar yang panjang lazimnya takat pinggang atau pinggul, gunanya menjelang menahan angin dan menghangatkan jasmani demi situasi dingin. Model Jacket bagi maskulin dan perempuan lazimnya senjang, teristimewa dari alternatif warna, irisan dan formatnya. Hampir segenap Jacket menyedot bukaan dan resleting atau kancing pada distribusi permulaan yang terpasang dari leher batas ujung bawahnya. tetapi, ada kurang lebih Jakcet lagi yang tidak ada bukaan pada serpih pendahuluannya. Selain modelnya, spesies congkong kain yang dipakai sepanjang pembuatan Jaket jua beraneka warna. Mulai dari masukan Jacket yang tipis dan tebal, ada lagi yang anti air dan angin, limit pelajaran Jacket dari kulit alami. Tapi tidak sel...